Senin, 01 September 2014

JAJANAN SOSIS JALANAN DI SEKITAR LINGKUNGAN ANAK USIA DINI



 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jajanan merupakan suatu makanan yang sering dikonsumsi oleh anak. Ada berbagai macam jenis jajanan, mulai dari jajanan tradisional sampai jajanan modern. Akan tetapi, yang lebih disukai anak adalah jajanan yang modern.
Jajanan anak sering diabaikan oleh orang tua secara sadar atau tidak sadar, apalagi setelah anak lepas dari pengawasan orang tua. Anak-anak lebih tertarik dengan jajanan yang lebih bervariasi dari segi bentuk dan warnanya seperti jajanan bakso mini, tempura, sosis, dan makanan ringan lainnya. Mereka tidak tahu apakah jajanan tersebut baik untuk tubuh mereka atau tidak.
Banyak orang yang menjual jajanan untuk anak-anak tetapi tidak memperhatikan kualitas dari jajanan yang dijual tersebut. Mereka hanya memikirkan keuntungan saja yang akan dihasilkan. Sebelum anak-anak terlanjur banyak mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat bagi tubuhnya, sebagai orang tua, kita senantiasa lebih memperhatikan dan mengawasi anak-anak kita dalam hal membeli jajanan. Setelah kita lebih memperhatikan jajanan yang dikonsumsi anak, kita akan mendapatkan manfaat bagi tumbuh kembang anak kita.
Semua jajanan tersebut sering penulis lihat di lingkungan sekitar terutama jajanan sosis. Banyak orang berjualan sosis di sekolah-sekolah dan di lingkungan masyarakat. Biasanya penjual dengan membawa sepeda yang di belakangnya diberi gerobak kecil sebagai tempat untuk berjualan. Ada juga yang berjualan dengan pikulan yang dibawa dengan berjalan.
Oleh karena itu, penulis mengangkat sebuah judul ” Jajanan Sosis Jalanan di Sekitar Lingkungan Anak Usia Dini ”.

  1. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang yang sudah ada, penulis menyusun rumusan masalah dari makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.      Apa itu jajanan sosis jalanan ?
2.      Apa bahaya jajanan sosis jalanan bagi tubuh anak ?
3.      Bagaimana upaya orang tua untuk mencegah anak-anaknya dalam mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat ?

C.    Tujuan Pemilihan Judul
Beberapa alasan yang membuat penulis tertarik memilih ” Jajanan Sosis Jalanan di Sekitar Lingkungan Anak Usia Dini ” sebagai judul dalam pembuatan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui arti jajanan sosis jalanan.
2.      Untuk mengetahui bahaya jajanan sosis jalanan bagi tubuh anak.
3.      Untuk mengetahui uapaya orang tua dalam mencegah anak-anaknya mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat.        















BAB II
PEMBAHASAN


  1. Pengertian Jajanan Sosis Jalanan
Sosis adalah suatu makanan yang terbuat dari daging cincang, lemak hewan, terna dan rempah, serta bahan-bahan lain. Sosis umumnya dibungkus dalam suatu pembungkus yang secara tradisional menggunakan usus hewan, tetapi sekarang sering kali menggunakan bahan sintetis, serta diawetkan dengan suatu cara, misalnya dengan pengasapan. Pembuatan sosis merupakan suatu teknik produksi dan pengawetan makanan yang telah dilakukan sejak sangat lama. Di banyak negara, sosis merupakan topping populer untuk pizza. Sosis terdiri dari bermacam-macam tipe, ada sosis mentah dan juga sosis matang. Di Indonesia terdapat berpuluh-puluh merk sosis, ada yang tipe premium dan ada tipe biasa, tergantung kontain sosisnya. Secara umum dapat dilihat dari harganya.
Jenis Sosis
            Kramlich (1971) membagi sosis menjadi enam kelas. Sementara itu, Forrest et al (1975) membagi sosis menjadi enam kategori berdasarkan metode pembuatan yang digunakan oleh pabrik, yaitu: sosis segar, sosis asap-tidak dimasak, sosis asap-dimasak, sosis masak, sosis fermentasi, dan daging giling masak.  Sosis segar dibuat dari daging segar yang tidak dikuring. Penguringan adalah suatu cara pengolahan daging dengan menambahkan beberapa bahan seperti garam natrium klorida (NaCl), natrium-nitrit, natrium-nitrat, gula, serta bumbu-bumbu. Sosis segar tidak dima           sak sebelumnya dan biasanya tak diasapi, sehingga sebelum dikonsumsi, sosis segar harus dimasak.  Sosis masak dibuat dari daging yang telah dikuring sebelum digiling. Sosis jenis ini dimasak dan biasanya diasapi. Daya simpannya lebih lama daripada sosis segar. Contohnya, frankfurter dan hot dog. Dilihat dari jenis dagingnya, sosis dapat terdiri dari beberapa macam, yaitu sosis sapi, sosis ayam, dan sosis babi. Akhir-akhir ini daging kambing juga telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis. Di Bali, terkenal sosis yang dibungkus dengan casing usus babi. Sosis itu dinamakan urutan.           
Komponen Penyusun
Komponen utama sosis terdiri dari daging, lemak, dan air. Selain itu, pada sosis juga ditambahkan bahan tambahan seperti garam, fosfat, pengawet (biasanya nitrit/nitrat), pewarna, asam askorbat, isolat protein, dan karbohidrat.  Lemak sering ditambahkan pada pembuatan sosis sebagai pembentuk permukaan aktif, mencegah pengerutan protein, mengatur konsistensi produk, meningkatkan cita rasa, dan mencegah denaturasi protein. Penambahan garam pada pembuatan sosis bertujuan untuk meningkatkan cita rasa, pengembang protein daging, pelarut protein daging, meningkatkan kapasitas pengikatan air (water holding capacity = WHC), serta sebagai pengawet. Penambahan fosfat akan bersinergi dengan garam untuk meningkatkan WHC pada sosis.  Tanpa garam dan fosfat, sosis akan sulit untuk dibuat. Asam askorbat sering ditambahkan dalam bentuk asam askorbat maupun natrium askorbat untuk membantu pemerahan daging. Selain itu, asam askorbat juga berfungsi sebagai antioksidan agar produk tidak mudah tengik.   Untuk mensubtitusi daging, pada pembuatan sosis sering juga ditambahkan isolat protein. Selain itu, pada pembuatan sosis juga ditambahkan karbohidrat sebagai bahan pengisi sosis.
Pengawet dan Pewarna
Pada pembuatan sosis, bahan pengawet yang sering digunakan adalah nitrit. Aktivitas antibakteri nitrit telah diuji dan ternyata efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri Clostiridium botulinum, yang dikenal sebagai bakteri patogen penyebab keracunan makanan. Nitrit dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan spora Clostiridium botulinum, Clostiridium perfringens, dan Stapylococcus aureus pada daging yang diproses. Selain sebagai pengawet, fungsi penambahan nitrit pada proses kuring daging adalah untuk memperoleh warna merah yang stabil. Nitrit akan terurai menjadi nitrit oksida, yang selanjutnya bakal bereaksi dengan mioglobin membentuk nitrosomioglobin. Meskipun nitrit sebagai salah satu bahan tambahan pangan memberikan banyak keuntungan, ternyata dari berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa nitrit dapat membentuk nitrosamin yang bersifat toksik dan karsinogenik. Nitrosodimetilamin hasil reaksi nitrit dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan bersifat karsinogen kuat yang bisa memicu penyakit tumor pada beberapa organ tikus percobaan. Jenis bahan pengawet dan dosis maksimum yang diizinkan pada sosis berdasarkan SNI 01-0222-1995 adalah belerang dioksida (450 mg/kg), kalium nitrat (500 mg/kg), kalium nitrit (125 mg/kg), natrium nitrat (500 mg/kg), serta natrium nitrit (125 mg/kg). Jenis pewarna yang biasa digunakan pada sosis adalah eritrosin dan merah allura, masing-masing dengan kadar maksimal 300 mg/kg.
Jenis Casing
Terdapat tiga jenis casing yang sering digunakan dalam pembuatan sosis, yaitu alami, kolagen, serta selulosa. Casing alami biasanya terbuat dari usus alami hewan. Casing ini mempunyai keuntungan dapat dimakan, bergizi tinggi, dan melekat pada produk. Kerugian penggunaan casing ini adalah produk tidak awet.  Casing kolagen biasanya berbahan baku dari kulit hewan besar. Keuntungan dari penggunaan casing ini adalah dapat diwarnai, bisa dimakan, dan melekat pada produk. Casing selulosa biasanya berbahan baku pulp. Keuntungan casing selulosa adalah dapat dicetak atau diwarnai dan murah. Casing selulosa sangat keras dan dianjurkan untuk tidak dimakan.  Saat ini telah dikembangkan poly amid casing, yaitu casing yang terbuat dari plastik. Casing jenis ini tidak bisa dimakan, dapat dibuat berpori atau tidak, bentuk dan ukurannya dapat diatur, tahan terhadap panas, dan dapat dicetak.  
Nilai Gizi
 Sosis merupakan produk olahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya. Produk olahan sosis kaya energi dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan. Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01–3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen. Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.
Sosis jalanan adalah sosis yang biasa dijual oleh pedagang yang ada di sekitar kita baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Sosis jalanan dijual dengan menggunakan sepeda atau dipikul oleh penjualnya.  Sosis tersebut disajikan dengan cara yang menarik, dibuat seperti bentuk bunga, bentuk spiral, bentuk hewan, dan bentuk-bentuk lain yang menarik. Setelah itu, diberi tusuk sate dan digoreng. Kemudian, dicelup ke dalam saus.
Pembuatan sosis jalanan secara umum sama dengan sosis yang ada di pasaran pada umumnya. Tetapi, kita tidak bisa mengontrol kualitas bahan dan kebersihannya. Karena, harga sosis jalanan relatif murah hanya sekitar 500 rupiah per tusuk. Bumbu yang digunakan pada sosis jalanan menggunakan saus yang tidak dapat dijamin mutu kesehatannya.

  1. Bahaya Jajanan Sosis Jalanan bagi Anak
            Barangkali semua orang tahu sosis adalah makanan yang lezat. Makanan berbentuk bulat panjang dan berwarna merah atau coklat ini terbuat dari daging, bisa daging ayam, sapi, domba,  ikan atau babi. Setelah diolah, daging-daging tersebut kemudian dibungkus dengan bungkus buatan atau usus hewan.    
Sosis digemari banyak orang, karena selain rasanya lezat, makanan ini juga tergolong mudah disajikan. Bahkan, belakangan ada sosis yang bisa langsung disantap tanpa perlu dimasak lagi. Namun, siapa yang menyangka dibalik kelezatan sosis ternyata ada bahaya yang mengancam, yakni kanker usus. Peringatan ini tidak main-main, bahkan para peneliti Inggris berulangkali mengingatkan bahwa mengkonsumsi sosis satu batang per hari dapat meningkatkan resiko kanker usus.       
Peneliti dari World Cancer Research Fund (WCRF) juga menegaskan bahwa 50 gram saja sosis yang dimakan setiap hari dapat meningkat penyakit kanker usus hingga 20 persen. Karena, meski terasa enak ternyata daging sosis mengandung kolesterol dan sodium yang tinggi.         Selain itu, sosis juga mengandung bahan pengawet. Bahan pengawet inilah yang memungkinkan daging sosis dapat tahan berhari-hari. Bahan-bahan berbahaya lain yang terkandung dalam sosis adalah Mononatrium/Monosadium Glutamat (MSG). Zat inilah yang membuat sosis terasa lezat meski tidak menggunakan bumbu tambahan apapun saat disajikan. Seperti diketahui MSG, sangat berbahaya jika dikonsumsi berlebih (lebih 6 mg gram per hari) karena dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan sebagainya.      
Sejak setahun lalu, WCRF telah memperingatkan bahaya mengkonsumsi daging olahan, seperti sosis, ham, hot dog dan pastrami. Daging ini berbahaya karena daging olahan adalah daging yang mengalami proses kimiawi lanjutan. Berbeda dengan daging mentah biasa yang diolah atau dimasak sendiri.
Bukti peningkatan resiko bagi pengkonsumsi daging olahan telah banyak ditemukan. Dan penderita penyakit kanker usus ternyata adalah penikmat setia daging olahan. Belakangan ini sosis dijadikan jajanan bagi anak-anak usia dini. Anak-anak gemar sekali makan sosis, mereka tidak menyadari akan bahaya apa yang mengancam kesehatan mereka.
Jajanan sosis yang ada di sekitar kita biasanya sosis goreng yang ditusuk pakai tusuk sate dengan penampilan yang menarik dan harga yang murah, hanya Rp. 500,- per tusuk. Anak-anak sangat suka sekali dengan sosis jalanan ini. Karena, menurut  mereka rasanya sangat enak. Tetapi, ternyata di balik penampilan yang memikat, harga yang murah dan rasa yang enak itu tersimpan bahaya yang siap menjerat siapa aja.  
Bahan daging yang dipakai itu menurut pengakuan pembuat sosis rumahan didapat dari para pedagang daging dengan harga murah. Karena itu adalah daging-daging sisa yang hampir busuk. Daging lalu dicincang dan digiling di tempat penggilingan daging rumahan yang tempatnya kalau dilihat jauh dari kebersihan. Setelah digiling, diberi pewarna tekstil lalu diberi tambahan bumbu-bumbu seperti garam, merica dan penyedap rasa dengan tidak memakai takaran.  
Keluhan penderita yang biasa mengkonsumsi sosis jalanan ini berupa pusing, mual-mual dan muntah. Ada juga yang kulitnya kemerah-merahan dan gatal. Apabila anak-anak banyak mengkonsumsi jajanan sosis jalanan sejak dini maka akan mempengaruhi kesehatan mereka di masa mendatang.

  1. Upaya Orang Tua untuk mencegah Anak-anak Mengkonsumsi Jajanan yang Tidak Sehat
Sebagai orang tua, hendaknya lebih mengawasi dan memperhatikan jajanan anak-anak, terlebih pada anak yang masih berusia dini. Karena, di masa usia dini merupakan masa keemasan (golden age) bagi anak. Perkembangan anak yang paling cepat juga terjadi pada waktu dini. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dalam mencegah anak-anaknya supaya tidak mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat antara lain :
1.      Membiasakan untuk memberi bekal makanan sebelum anak-anak berangkat ke sekolah
Orang tua seharusnya menyempatkan waktu untuk menyiapkan bekal makanan  bagi anak sebelum berangkat sekolah supaya anak tidak jajan di sekolah dan membiasakan anak untuk belajar berhemat menyisakan uang saku untuk ditabung. Orang tua memberikan menu makanan kesukaan anak, mengganti-ganti menu makanan setiap hari, atau membentuk berbagai macam variasi makanan yang unik supaya anak tidak bosan.
2.       Orang tua menasihati anaknya untuk selektif memilih jajanan
Anak diberikan pengertian tentang beberapa jajanan yang harus dihindari dan memberikan penjelasan terhadap bahaya jajanan tersebut misalnya : minuman yang warnanya menarik, makanan yang memakai bahan saus tomat yang tidak terjamin kualitasnya, berbagai macam gorengan yang minyaknya telah berkali-kali dipakai, dll.
3.      Orang tua menjalin kerjasama dengan guru di sekolah
Orang tua sebaiknya menanyakan kepada pihak sekolah tentang kebiasaan anak baik di dalam kelas maupun diluar kelas dan menanyakan tentang jajanan apa saja yang sering dibeli anak. Diharapkan orang tua memberikan saran kepada pihak sekolah untuk mengawasi atau melarang anak membeli jajanan di luar sekolah dengan cara pihak sekolah menyediakan jajanan di dalam sekolah serta memberikan hukuman bagi  anak yang melanggar aturan.
4.      Orang tua mengusulkan kepada pihak sekolah untuk memberikan makanan tambahan
Makanan tambahan yang dimaksud adalah makanan yang dibuat oleh pihak sekolah supaya anak tidak jajan sembarangan. Anggaran dana dikekola oleh pihak sekolah yang bersumber dari pemerintah.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Jajanan anak yang berada di sekitar kita cukup meresahkan orang tua karena banyak memakai bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh.
2. Sosis merupakan salah satu jajanan yang banyak digemari anak-anak namun memiliki dampak buruk bagi kesehatan.
3. Bahan-bahan yang terkandung di dalam sosis jalanan banyak memakai bahan pengawet, pewarna dan penyedap rasa yang berlebihan sehingga dapat merusak mekanisme tumbuh kembang anak usia dini.

B. Saran
1. Orang tua harus lebih mengawasi anak-anaknya dalam mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat.
2. Pihak sekolah juga harus ikut berpartisipasi memperhatikan jajanan anak di sekolah.
3. Anak-anak diharapkan dapat menaati nasihat orang tuanya dan peraturan yang disampaikan di sekolah.












DAFTAR PUSTAKA


http://kisahislam.com/artikel/halal-info/128-hati-hati-makan-sosis.html




Selasa, 20 Mei 2014

PENGARUH PEMILIHAN TEMA DAN PARTNER DALAM COOPERATIVE PLAY TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU SOSIAL ANAK



PENGARUH PEMILIHAN TEMA DAN PARTNER DALAM COOPERATIVE PLAY TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU SOSIAL PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI KELURAHAN SEKARAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG

Suroningsih
Dra. Lita Latiana, S.H, M.H
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Universitas Negeri Semarang
Indonesia
suraningsih@gmail.com

ABSTRAK
Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam beriteraksi dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemilihan tema dan partner dalam Cooperative Play terhadap peningkatan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun di kelurahan Sekaran kecamatan Gunungpati kota Semarang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan Quasi eksperimen design bentuk Nonequivalent control group design. Populasi penelitian adalah anak usia 5-6 tahun di kelurahan Sekaran. Sampel penelitian berjumlah 60 anak dengan menggunakan cluster sampling. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah uji t-test. Hasil penelitian dari nilai uji t kelompok yang tidak diberi perlakuan pemilihan tema terhadap perilaku sosial sebesar 6,426 lebih kecil dibanding dengan nilai kelompok yang diberi perlakuan pemilihan tema terhadap perilaku sosial sebesar 7,447. Sedangkan nilai uji t kelompok yang tidak diberi perlakuan pemilihan partner terhadap perilaku sosial sebesar 1,211 lebih kecil disbanding dengan nilai kelompok yang diberi perlakuan pemilihan partner terhadap perilaku sosial sebesar 2,221. Simpulan penelitian adalah adanya pengaruh yang signifikan pemilihan tema dan partner dalam cooperative play terhadap peningkatan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun.
Kata Kunci: Anak Usia 5-6 Tahun; Partner; Perilaku Sosial; Tema

ABSTRACT
Social behavior is an activites in interact with others. The purpose of this research is to know the influence of themes and partner selectedin the Cooperative Play to increase social behavior in children 5-6 years old in Sekaran, Gunungpati Semarang. The approach used is a quantitative withQuasyexperiment design, Nonequivalent control group design. The population is children 5-6 years old in Sekaran. The sample is 60 children by using cluster sampling. The technique used in the data analysis is t-test. The result of the t-test values ​​treatment group were not given theme selection on social behavior is 6.426 that smaller than the value of the treatment group were given themesselection to the social behavior that 7.447. While the value of the t-test treatment group were not given the partner choice is 1,211 social behavior that smaller than the value of the treatment group were given the partner choice that 2,221 social behavior. Thestudy conclusion is there was  significant influence of themes and partners selection in cooperative play against increasing of social behaviors children 5-6 years old.
Keywords: Children Aged 5-6 Years; Partners; Social Behavior; Themes
Pendahuluan
Anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahun. Anak dalam kurun usia ini mengalami masa-masa keemasan (the golden age). Anak mudah menyerap dan mengembangkan hal-hal baru yang ia dapat pada masa ini. Era globalisasi ini, dihadapkan pada tuntutan mampu menghadapi persaingan bebas yang menuntut manusia-manusia unggul untuk mampu menghadapinya. Menghadapi masa itu, dibutuhkan generasi-generasi penerus yang tangguh, yang berkepribadian utuh dan mampu bersosialisasi secara baik.
Kemampuan berperilaku sosial perlu dimiliki sejak anak masih kecil sebagai suatu fundasi bagi perkembangan kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih luas. Ketidakmampuan anak berperilaku sosial yang diharapkan lingkungannya dapat berakibat anak terkucil dari lingkungan, tidak terbentuknya kepercayaan pada diri sendiri dan menarik diri dari lingkungan. Akibatnya anak akan mengalami hambatan dalam perkembangan selanjutnya. Anak khususnya usia 5-6 tahun pada dasarnya memiliki keinginan yang kuat untuk dapat diterima oleh kelompoknya.
Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak dan merupakan satu cara yang paling efektif menurunkan stres pada anak, serta penting untuk mensejahterakan mental dan emosional anak (Champbel & Glaser, 1995 dikutip oleh Supartini, 2004). Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik, perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995). UU RI No. 39 Tahun 1999 Pasal 61 menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk beristirahat dan bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan dirinya.
Anak usia lima sampai enam tahun pada umumnya sudah dapat bermain secara kooperatif (cooperative play) (Wolfinger, 1994). Parten (1932) menunjukkan hal itu bahwa bermain berdasarkan karakteristik sosial terbagi menjadi enam macam di antaranya yaitu cooperative play. Cooperative play merupakan suatu permainan yang terorganisir dalam kelompok, ada tujuan kelompok dan ada yang memimpin dimulai dari usia prasekolah. Misalnya dalam permainan drama, permainan konstruktif membangun dengan balok sebuah kota atau melakukan permainan bersama yang ada unsur kalah menang, bermain di bak pasir atau bermain bola kaki yang sederhana dan petak umpet.
Tema dalam permainan anak banyak macamnya. Menurut Keren, dkk. (2005) menyebutkan bahwa tema bermain pada anak laki-laki lebih cenderung yang agresif, sedangkan pada anak perempuan lebih ke pengasuhan. Kimber (2010) juga telah mengembangkan tema bermain pada anak. Tema-tema tersebut meliputi rumah, televisi, petualangan, kehidupan nyata, dongeng, hewan dan sekolah. Kemudian tema-tema tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tema fantasi dan tema kehidupan nyata. Hasil penelitian Kimber (2010), menyatakan bahwa tema fantasi lebih signifikan dari pada tema kehidupan nyata. Hal ini dibuktikan dengan hasil tema fantasi (gabungan dari tema petualangan, dongeng dan hewan) yang mencapai 60% sedangkan tema kehidupan nyata (gabungan dari rumah, kehidupan nyata dan sekolah) hanya mencapai 37%, dengan catatan untuk tema televisi yang 3% dihilangkan.
Pemilihan partner dalam bermain juga diprediksi mempengaruhi perilaku sosial anak. Ketika anak-anak bermain dengan partner yang lebih berpengalaman, seperti Ibu, mereka dilengkapi dengan contoh, stimulus, materi dan kesempatan untuk melakukannya pada tingkat di atas yang mungkin bisa mereka capai sendiri. Vygotsky (Bjorklund, 2005), jika anak-anak berbuat secara spontan dan bebas pada “tingkat perkembangan yang sesungguhnya” di bawah bimbingan orang lain yang lebih berkompeten maka mereka akan meraih tingkat “perkembangan sosial” yang lebih tinggi. Partisipasi Ibu pada permainan kooperatif meningkatkan tingkat ekspresi kecakapan sosial dalam permainan anaknya.
Berdasarkan hasil observasi di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, di mana mayoritas anak-anak bermain dengan berbagai jenis tema dan partner yang berbeda-beda dalam permainan. Akan tetapi, beberapa anak khususnya anak usia 5-6 tahun masih kurang dalam hal meningkatkan perilaku sosial. Hal ini terlihat ketika anak sedang bermain, ada yang masih mementingkan diri sendiri, mereka enggan meminjamkan mainannya dan mudah marah. Jadi, perilaku-perilaku nonsosial masih sering muncul di usia tersebut. Padahal Hurlock (1978) menyebutkan bahwa dalam usia 4 tahun anak sudah berlatih untuk berperilaku sosial seperti bekerja sama.
Anak-anak di lingkungan masyarakat Sekaran biasanya bermain bersama pada waktu sore hari. Jenis bermain kooperatif yang anak-anak lakukan banyak sekali, di antaranya ialah bermain kelereng, bermain pasaran dan bermain menirukan profesi. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti ingin mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemilihan Tema dan Partner dalam Cooperative Play terhadap Peningkatan Perilaku Sosial pada Anak Usia 5-6 Tahun di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang”     

Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui pengaruh pemilihan tema dan partner terhadap peningkatan perilaku sosial dalam cooperative play. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen Nonequivalent control group design. Jenis desain eksperimen ini merupakan desain eksperimen yang dilakukan dengan adanya pretest dan posttest pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen, namun tidak dilakukan randomisasi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Sugiyono, 2009: 116). Hal ini sesuai dengan penelitian ini, karena dalam menentukan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak dilakukan secara acak. Selain itu, pemberian pretest digunakan untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
Variabel dalam penelitian ini diidentifikasi menjadi 2 yaitu: variabel bebas (independent variable) adalah pemilihan tema (X1) dan partner (X2) dan variabel terikat (dependent variable) adalah perilaku sosial (Y).
Populasi penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun di kelurahan Sekaran kecamatan Gunungpati kota Semarang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik probability sampling. Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampe (Sugiyono, 2013: 120). Adapun jenis probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster sampling (are sampling). Teknik area sampling digunakan untuk menentukan sampel apabila obyek yang akan diteliti atau suatu sumber data sangat luas. Dalam hal ini adalah anak usia 5-6 tahun di kelurahan Sekaran. Sampel penelitian ini terdiri dari 60 anak usia 5-6 tahun yang berada di kelurahan Sekaran kecamatan Gunungpati kota Semarang. Pembagian sampelnya adalah 30 anak usia 5-6 tahun dari desa Banaran sebagai kelompok eksperimen dan 30 anak usia 5-6 tahun dari desa Sekaran sebagai kelompok kontol.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi terstruktur atau observasi yang telah dirancang secara sistematis. Observasi ini dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung serta dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi disusun dalam bentuk skala yang dibuat dalam panduan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya (Sugiyono, 2010: 205). Hal ini diperkuat oleh teori yang menyatakan bahwa, mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat (Arikunto, 2010). Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut apabila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
Ada berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan skala guttman. Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban “ya-tidak”. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio (dua alternatif). Skala guttman dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk cheklist. Jawaban dibuat skor tertinggi 2 dan terendah 1. Jawaban “ya” mempunyai skor 2 dan jawaban “tidak” mempunyai skor 1 (Sugiyono, 2010). Teknik observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data-data tentang tema-tema apa yang dipilih oleh anak ketika bermain cooperative play, dengan siapa anak memilih partner ketika bermain dan perilaku sosial seperti apa yang ditunjukkan anak dalam aktivitas bermain.
Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas internal yaitu dengan mengkorelasikan skor tiap item instrumen dalam skor total. Reliabilitas adalah sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik. Reliabel artinya dapat dipercaya jadi dapat diandalkan (Arikunto, 2010: 221).
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua analisis data. Analisis yang pertama adalah menguji perbedaan kemampuan awal antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (O1: O2). Pengujiannya menggunakan T-Test of Related (berpasangan). Hasil yang diharapkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yaitu O1 dengan O2 (Sugiyono, 2010).
Analisis kedua adalah menguji hipotesis yang diajukan. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ”pengaruh pemilihan tema dan partner dalam cooperative play untuk meningkatkan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun”. Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut adalah teknik T-Test untuk dua sampel related, yang diuji adalah antara O1 dengan O2. Kalau ada perbedaan di mana O1 > O2, maka pemilihan tema dan partner untuk meningkatkan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun berpengaruh positif dan apabila O1 < O2, maka berpengaruh negatif.

Hasil dan Pembahasan
Kelurahan Sekaran merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Gunungpati, kota Semarang. Kelurahan ini memiliki batas wilayah pada sebelah utara yaitu kelurahan Sukorejo, sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Patemon, sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kalisegoro dan sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Srondol Kulon.
Sekaran memiliki luas wilayah kurang lebih 490.718 ha. Terbagi dalam 2 wilayah pembantu kelurahan, 7 desa, 25 RT dan 7 unit RW. Dari beberapa desa tersebut Sekaran dan Banaranlah yang paling luas. Kedua daerah tersebut menjadi sentral desa dibanding desa lainnya dengan kapasitas penduduk yang besar jumlahnya. Kelompok kontrol dalam penelitian ini mengambil desa Sekaran, sedangkan kelompok eksperimennya mengambil desa Banaran.
Pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji beda uji t. Sebelum dilakukan uji t, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi berupa uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dapat dilihat dari nilai Asymp. Sig. (2-tailed), sedangkan untuk uji homogenitas dapat dilihat melalui nilai dari levene statistic    
 Tabel 1. Hasil uji normalitas dan homogenitas
Kelompok
Asymp. Sig. (2-tailed)
Tema
Partner
Perilaku Sosial
Kontrol
0,971
0,504
0,827
Eksperimen
0,970
0,427
0,950
Levene Statistic
0,634
0,751
0,725
Berdasarkan tabel 1. data yang diolah merupakan data yang berdistribusi normal dan homogen karena hasilnya > 0,05.
Hipotesis kerja (Ha) dalam penelitian ini adalah: (1) Ada pengaruh pemilihan tema dalam Cooperative Play terhadap peningkatan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun; (2) Ada pengaruh pemilihan partner dalam Cooperative Play terhadap peningkatan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun.
  



 Tabel 2. Hasil uji t test
Kelompok
Tema
Partner
Pretest
Posttest
Pretest
Posttest
Kontrol
6,032
6,426
0,007
1,211
Eksperimen
6,115
7,447
0,783
2,221
Berdasarkan tabel 2. Semua hipotesis kerja (Ha) diterima, kecuali dalam pemilihan partner dari pretest kelompok kontrol. Jadi, Pemilihan tema dalam cooperative play berpengaruh terhadap peningkatan perilaku sosial. Begitu juga dengan pemilihan partner dalam cooperative play berpengaruh terhadap peningkatan perilaku sosial.
Ada tidaknya pengaruh pemilihan tema maupun pemilihan partner dalam cooperative play dapat dilihat dari hasil skor pemilihan tema maupun pemilihan partner sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Tema maupun partner diukur dengan menggunakan skoring. Anak diuji satu persatu menggunakan bantuan panduan observasi untuk membantu anak dalam penilaian pernyataan tersebut. Sedangkan Brooks (2011) mengartikan perilaku sosial sebagai perilaku sukarela yang memberi manfaat pada orang lain, seperti tindakan menenangkan seseorang, membantu dan berbagi.  Ketika anak bermain kooperatif, anak akan saling bekerjasama, saling membantu dan berbagi dengan temannya.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku sosial, yaitu faktor keluarga, faktor teman sebaya dan faktor masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ahmadi (2007: 256), bahwa pengalaman interaksi sosial di dalam keluarga turut menentukan perilakunya terhadap orang lain. Setiap hari anak akan melihat perilaku dan kebiasaan yang dilakukan oleh keluarganya. Hal ini tidak menutup kemungkinan anak untuk meniru perilaku yang dilihatnya tersebut.
Selain itu juga, sahabat dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap sosialisasi anak (Hurlock, 1978: 291). Anak dapat memperoleh pengalaman belajar dari teman-temannya. Apabila kelompok temanya tersebut berperilaku baik, maka anak akan mencontoh perilaku baik tersebut. Begitu juga, apabila kelompok bermain anak berperilaku buruk, anak juga akan meniru perilaku buruk tersebut.
Berdasarkan data hasil penelitian kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, menunjukkan bahwa pemilihan tema maupun pemilihan partner dalam cooperative play berpengaruh terhadap peningkatan periaku sosial anak usia 5-6 tahun. Hal tersebut juga disebabkan karena pada pemilihan tema maupun pemilihan partner dalam cooperative play, anak lebih banyak bermain secara berkelompok dan sering berinteraksi dengan temanya. Selain itu juga, anak-anak lebih menyukai kegiatan yang beragam dalam bermain dan banyaknya pilihan permainan, sehingga anak merasa senang yang sesuai dengan dunia anak yaitu dunia bermain.
Penelitian ini mengarah pada hasil penelitian Kimber (2010) yang menggunakan dua pillihan tema besar yaitu tema kehidupan nyata dan tema fantasi. Kemudian, masing-masing tema besar dibagi menjadi tiga sub tema, sehingga total pilihan tema dalam cooperative play berjumlah enam. Sub tema tersebut adalah sub tema rumah, sub tema kehidupan nyata, sub tema sekolah, sub tema petualangan, sub tema dongeng dan sub tema hewan.
Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan pada sub tema rumah dalam cooperative play antara lain bermain membuat rumah-rumahan, bermain membentuk struktur keluarga, bermain memerankan peran keluarga, bermain mengasuh bayi dan bermain boneka. Melalui pemilihan tema dalam permainan tersebut anak dapat belajar bekerjasama, misalnya membuat bangunan rumah-rumahan dengan temannya.
Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan pada sub tema dalam cooperative play kehidupan nyata antara lain bermain pasar-pasaran, bermain masak-masakan, bermain menjadi polisi, bermain sepedaan dan bermain dokter-dokteran. Di dalam pemilihan tema dalam permainan tersebut anak dapat belajar bersikap ramah, misalnya sebagai penjual harus bersikap ramah kepada semua pembeli yang datang.
Kemudian, untuk kegiatan yang dapat dilakukan pada sub tema dalam cooperative play sekolah antara lain bermain menjadi guru, bermain menjadi murid, bermain puzzle, bermain balok dan bermain kartu baca. Dalam kegiatan yang ada pada permainan tersebut anak dapat belajar persaingan yang positif, misalnya ketika lomba bermain puzzle antartim.
Sedangkan untuk kegiatan pada sub tema petualangan dalam cooperative play, seperti bermain betengan, bermain sudamanda, bermain petak umpet, bermain jamuran, bermain perang-perangan dan bermain ular tangga. Karena kegiatan bermain ini dilakukan secara berkelompok, maka permainan ini mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan teman, menjalin hubungan baik dengan teman dan belajar saling menghargai.
Selanjutnya kegiatan pada sub tema dongeng dalam cooperative play, misalnya bermain menjadi putri salju, bermain menjadi peri, bermain bawang merah bawang putih, bermain menjadi timun emas dan bermain topeng. Pada permainan ini anak dapat belajar sikap tidak mementingkan diri sendiri, menanamkan simpati dan empati.
Terakhir kegiatan pada sub tema hewan dalam cooperative play, termasuk bermain hewan-hewanan, bermain menirukan suara hewan, bermain binatang darat dan bermain binatang laut. Kegiatan dalam permainan ini dapat membantu anak untuk belajar kemurahan hati dan rasa kasih sayang sesama mahkluk hidup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi yaitu ketika anak ada keinginan yang besar untuk ikut bergabung dalam suatu keompok. Hal ini juga ditunjukkan pada saat anak melihat ada sekelompok anak lain sedang bermain, anak tersebut ingin ikut dalam bermain tersebut. Hal lain ditunjukkan anak ketika anak melihat perilaku dari orang-orang di sekitanya, anak akan meniru hal tersebut. Padahal perilaku yang dilihat belum tentu semuanya perilaku yang baik.
Hal ini sesuai dengan pendapat Daeng S. (1996: 114) dalam Syaodih (2005), ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi menurut, yaitu: (1) Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang; (2) Adanya minat dan motivasi untuk bergaul; (3) Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain yang biasanya menjadi “model” bagi anak; dan (4) Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
Adapun pemilihan partner dalam cooperative play, anak dapat memilih lawan main yang disukai. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa anak-anak juga mengungkapkan pilihan atas anak-anak yang mereka jadikan teman bermain dan anak-anak yang tidak mereka suka jadi teman bermain (Seefeldt & Barbara, 2008: 85). Partner yang dapat dipilih anak antara lain orangtua, saudara, dan teman. Interaksi antara anak dengan partner dapat ditandai dengan adanya pemberian senyuman, adanya penawaran dan penerimaan benda, adanya aktivitas partner dalam kegiatan bermain, adanya timbal balik dari partner, adanya keterlibatan partner dalam percakapan anak dan seperti partner mau mengikuti ajakan anak serta partner membantu tugas anak.
Jadi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan tema maupun pemilihan partner dalam cooperative play dapat membantu anak untuk bermain berkelompok dan saling berinteraksi. Pemilihan tema maupun pemilihan partner memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan perilaku sosial anak usia 5-6 tahun. Karena melalui pemilihan tema maupun pemilihan partner dalam cooperative play, anak belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan, anak juga terdorong untuk belajar menerapkan pola-pola perilaku sosial seperti kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru dan  perilaku kelekatan (attachment behavior).
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa, ada pengaruh pemilihan tema dalam cooperative play terhadap peningkatan perilaku sosial pada anak usia 5-6 tahun di kelurahan Sekaran kecamatan Gunungpati kota Semarang dan ada pengaruh pemilihan partner dalam cooperative play terhadap peningkatan perilaku sosial pada anak usia 5-6 tahun di kelurahan Sekaran kecamatan Gunungpati kota Semarang.

Ucapan Terimakasih

1.    Kedua orangtua yang senantiasa memberikan do’a supaya diberikan kelancaran dalam pembuatan manuskrip.
2. Dra. Lita Latiana, S.H, M.H, yang telah menuntun dan membimbing dengan sabar serta memberikan pengarahan dalam penyusunan manuskrip ini.
3.    Edi Waluyo, M.Pd, sebagai Ketua Jurusan PG PAUD Unnes.
4.    Drs. Hardjono, M.Pd, sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
5.    Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum, sebagai Rektor Universitas Negeri Semarang.
Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Brooks, Jane. 2011. The Process of Parenting. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak, Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Keren, M., dkk. 2005. Relations Between Parents' Interactive Style in Dyadic and Triadic Play and Toddlers' Symbolic Capacity. American Journal of Orthopsychiatry. Volume 75, Issue 4: pages 599–607. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16262517 (diakses pada tanggal 12 Oktober 2012).
Kimber, Vivienne. 2010. What are the key themes in young children’s imaginative play? How can we use these themes to develop shared spaces to support young children’s imaginative play? Childrens Workforce Development Council, http://dera.ioe.ac.uk/2756/1/Microsoft_Word_-_PLR0910043Kimber.pdf (diakses pada tanggal 02 Februari 2013).
Santrock, John W. 2011. Masa Perkembangan Anak: Edisi 11-Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Seefeldt, Carol & Barbara A. Wasik. 2008. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung: Alfabeta.
Suyanto, Slamet. 2003. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: UNY.
Syaodih, Ernawulan. 2005. Bimbingan di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdiknas.
Vandermass-Peler, M. 2002. Cultural variations in parental support of children's play. In W. J. Lonner, D. L. Dinnel, S. A. Hayes, & D. N. Sattler (Eds.). Online Readings in Psychology and Culture (Unit 11, Chapter 3), (http://www.wwu.edu/~culture), Center for Cross-Cultural Research, Western Washington University, Bellingham, Washington USA (diakses pada tanggal 03 Oktober 2012).